Pelototin Angka Corona, Jokowi Senang Tapi Siaga

Harian Rakyat Merdeka, Edisi Sabtu 7 Agustus 2021, Halaman 1

 

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali mulai terlihat hasilnya. Kasus baru Covid-19 mulai menurun. Tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di rumah sakit juga terus membaik. Melihat angka-angka Covid-19 seperti ini, Presiden Jokowi senang, tapi tetap siaga.

Penurunan kasus Corona di Jawa-Bali, terlebih di Jakarta, mulai terlihat sejak sepekan lalu. Angka kasus harian yang pertengahan Juli lalu mencapai di angka 13 ribuan per hari, sudah menurun drastis di angka 2 ribuan.

Kemarin misalnya, kasus baru mencapai 2.185 orang. Positivity rate juga sudah menurun ke angka 15 persen. Lumayan membaik dibanding bulan lalu yang pernah mencapai 40 persen.

Dampak penurunan kasus ini terlihat di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Jumlah pasien baru terus berkurang, sementara pasien sembuh terus bertambah.

 

Jumlah pasien yang ada di Wisma Atlet saat ini berjumlah 2.002 pasien atau keterisian tempat tidur di angka 25,36 persen. Jauh menurun dibanding awal Juli lalu yang mencapai 97 persen.

Pihak pengelola pun mengosongkan Tower 4 yang awalnya digunakan merawat pasien. Kini, hanya tiga tower yang digunakan: Tower 5, 6, dan 7.

Presiden Jokowi yang terus memantau angka-angka kasus Corona, bersyukur melihat kasus Corona di Jawa-Bali, terutama di Jakarta, mulai menurun.

Eks Wali Kota Solo itu senang melihat kondisi Wisma Atlet yang dulu penuh sekarang BOR-nya tinggal 25 persen.

 

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat jumpa pers usai meresmikan RS Modular Pertamina khusus Covid-19 di Tanjung Duren, Jakarta, kemarin.

Meski senang kasus Coroan turun, mimik muka Jokowi tetap serius. Dia meminta, agar tetap waspada dan terus berjaga-jaga.

“Saya melihat selalu angka-angka BOR, setiap hari saya lihat, setiap malam dan tadi pagi kalau mungkin 6- 8 minggu lalu di Wisma Atlet BOR-nya di sekitar 90-an persen, pagi hari ini saya mendapatkan informasi angkanya sudah di posisi 25 persen,” paparnya.

Komandan PPKM Level 4 di Jawa-Bali, Jenderal (purn) Luhut Binsar Pandjaitan juga ikut bersyukur melihat tren kasus Corona di Jawa-Bali mulai menurun. Namun, kata dia, kondisi ini harus disikapi dengan super hati-hati. Jangan sampai membuat terlalu gembira yang bisa bikin kasus melonjak lagi.

“Bersyukur kondisi kita relatif agak membaik semua dibandingkan di berbagai negara di dunia. Di Jepang, Amerika, Malaysia, Inggris, itu keadaannya naik semua,” kata Luhut, saat meninjau kegiatan vaksinasi Covid-19 di Markas Komando Distrik Militer 0705 Magelang, Jawa Tengah, kemarin.

 

Ia mengingatkan, kedisiplinan protokol kesehatan penting di tengah pandemi saat ini. Di samping itu, 3 T alias testing, tracing dan treatment harus tetap digencarkan.

Menko Kemaritiman dan Investasi itu pun mengupayakan semua pasien Corona tanpa gejala (OTG) yang isolasi mandiri (isoman) di rumah untuk isolasi di tempat isolasi terpusat (isoter) yang disediakan pemerintah. Agar pengawasan terhadap pasien lebih mudah, dan cepat tertangani jika kondisi kesehatan menurun.

Kasus Corona di Jawa memang mulai menurun. Namun, jika dilihat secara nasional, kasus Corona masih terbilang tinggi. Dari data Kementerian Kesehatan mencatat, per hari kemarin, ada tambahan kasus 39.532 kasus. Dengan jumlah tersebut total kasus Corona menjadi 3.607.863 kasus. Dari jumlah tersebut, 507.375 di antaranya kasus aktif.b

 

Angka kematian pun masih tinggi. Sehari kemarin dilaporkan sebanyak 1.635 pasien positif Corona yang meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah total pasien positif Corona yang meninggal sebanyak 104.010 orang.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djurban mengingatkan, pemerintah agar tak lekas berpuas diri dengan kondisi saat ini. Soalnya angka kematian karena virus asal China itu masih tinggi.

Di Juli lalu misalnya, jumlah kasus kematian akibat Corona mencapai 30 ribu orang. Kasus kematian tinggi dikarenakan kurangnya pasokan oksigen dan pasien isoman yang tidak tertangani dengan baik.

Karena itu, dia bilang masih ada banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi antara lain layanan rumah sakit dan laboratorium tes Corona. Dia minta rumah sakit serius dalam membuka informasi. Laporan dari lapangan Puskesmas dan pasien kesulitan menghubungi hotline rumah sakit.

“Mereka coba menghubungi namun tidak ada yang angkat. Akibatnya, ambulans dari Puskesmas tidak bisa jalan ke rumah sakit. Pasien pun tidak tertangani dan akhirnya meninggal,” kata Zubairi, kemarin.

Karena itu, dia meminta, rumah sakit membuka layanan hotline dan merespons dengan serius. “Karena ambulans baru bisa berangkat kalau rumah sakit yang dituju memberi jaminan,” ungkapnya.

 

Ia juga meminta pemerintah mengawasi pasien isoman yang meninggal. Kata dia, meski pasien isoman di rumah harus tetap memerlukan konsultasi dengan dokter.

Ia bersyukur, di beberapa daerah telah bisa diakses layanan telemedicine yang menghubungkan secara daring pasien isoman dengan dokter. Dokter spesialis penyakit dalam itu berharap layanan telemedicine bisa semakin merata terakses di seluruh daerah.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyampaikan hal serupa. Kata dia, secara nasional kasus Corona di Tanah Air masih tinggi dan mengkhawatirkan. Apalagi saat ini terjadi lonjakan kasus di luar Jawa.

 

Menurut dia, langkah pemerintah menerapkan PPKM Level 4 di luar Jawa mungkin tak akan membawa hasil serupa dengan yang diterapkan di Jakarta. Ada banyak tantangan saat menerapkan PPKM Level 4 di luar Jawa seperti masalah geografis, infrastruktur, SDM, kesiapan fasilitas kesehatan, dan juga masalah sosial ekonomi.

Menurut Dicky, penerapan PPKM Level 4 berhasil menurunkan penambahan kasus positif di Jawa-Bali karena dukungan pemerintah pusat berupa ketersediaan alat-alat kesehatan, didukung fasilitas penunjang isolasi, serta tambahan SDM untuk tracing.

“Jadi kalau mau replikasi PPKM Level 4 siapkan dulu daerah supaya tujuan menurunkan kasus baik positif atau kematian bisa tercapai,” kata Dicky, kemarin.