Membatik Alami Di Musim Pandemi

Siswa kelas 5 SDN Kubangkangkung 4 membuat batik jumputan dengan bahan alami. - Istimewa

 

Musim pandemi menjadikan siswa banyak belajar di rumah. Bahan belajarnya pun kebanyakan berasal dari lingkungan seputar rumah.
Memanfaatkan sumber daya alam sekitar rumah berupa tumbuh-tumbuhan seperti kunyit, daun pandan, daun suji dan kulit buah manggis.

Adalah Munofa Khoeron Rizoq, Calon Guru Penggerak SDN Kubangkangkung 04 Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap yang mengajak siswanya membuat pewarna batik alami. Bahan-bahan tersebut dijadikan sebagai pewarna alami dalam pembuatan batik jumputan oleh siswa kelas 5.
 
Munofa menuturkan proses pembuatan batik diawali dari membuat warna alami dari tumbuhan seperti kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau, kulit manggis untuk warna biru dan ungu.

"Proses pembuatan batik jumputan sangat sederhana. Kain putih polos diikat dengan beberapa teknik seperti teknik ikatan mawar ganda, teknik ikatan silang dan teknik ikatan tunggal. Cukup diikat dengan tali karet, lalu dicelupkan ke dalam rebusan air kunyit atau bahan pewarna alami lainnya. Setelah itu batik dikeringkan, langsung jadi. Anak-anak pun sangat suka," tuturnya.
 
Kepala SDN Kubangkangkung 4, Aminah mengatakan, hasil dari batik jumputan para siswanya memang belum sampai dijual. Sementara masih sebagai hiasan di kelas dan beberapa akan dibuat sebagai taplak meja atau barang bermanfaat lainnya.

"Ke depan, kami berharap dengan melatih anak kreatif seperti ini bisa menjadi bekal mereka untuk menekuni keterampilan khususnya dalam bidang pembuatan batik, untuk meningkatkan perekonomian," harap Aminah.

Semua siswa yang terlibat dalam pembuatan batik jumputan tampak asyik meski dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes)
 
Salah satu siswa kelas 5 Fitria Nur Istiqomah mengungkapkan, kegiatan membuat batik jumputan dengan warna alami sangat mengasyikkan. Menurutnya aktivitas membuat batik jumputan dapat menambah kreativitas serta meningkatkan kemampuan bekerjasama dengan teman-teman dalam belajar.

"Saya merasa senang dan bebas berekspresi dengan aktivitas membatik ini," ujar Fitria. (*)