Kiat Pedagang Pakaian Seken Agar Tetap Bertahan di Tengah Wabah Covid-19, Tak Lagi Ngetem di Lapak, Aktif di Media Sosial Berjualan Online

Pasar seken Aviari yang dulunya ramai, kini sepi pengunjung akibat wabah pandemi Covid-19/Batam Pos-Dali Harahap

 

 

 

 

 

Baru saja selesai membungkus satu lembar celana jeans bertulis Levi,s 01, Lina kembali sibuk dengan bungkusan beberapa lembar baju kaos lainnya. Ibu tiga anak ini tampak sibuk, Kamis (20/5) siang sebab banyak orderan dengan jualan pakaian bekasnya. Sejam sebelumnya warga, Marina, kelurijan Tanjungriau, Kecamatan Sekupang ini baru saja melakukan siaran langsung (live) dagangannya (pakaian bekas) melalui akun Facebook ke group jual beli. Dalam siaran langsung ini dia dapat tujuh orderan yang membuatnya tergesa-gesa dengan bungkusan- bungkusan paket tadi.

 

Ya dia harus secepatnya memanggil kurir agar pesanan pakaian bekas dari pembeli segera diantar. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya. Selain fokus dengan urusan memasak dan jaga anak di rumah, Lina juga tetap sigap dengan urusan bisnis demi mempertahankan pundi-pundi tambahan keluarganya. Suami memang bekerja, tapi Lina tidak mau tinggal diam. Sejak tahun 2010 ibu tiga anak ini sudah aktif berjualan pakaian bekas yang didatangkan dari Singapura atau Malaysia untuk membantu perekonomian keluarganya.

 

Sebelum pandemi Covid-19 mewabah, dia adalan satu dari ratusan pedagang pakaian dan barang bekas di pasar seken Aviari. Pasar seken Aviari cukup terkenal bagi masyarakat Batam dan sekitarnya sebab khusus menjual berbagai jenis barang seken seperti pakaian, sepatu, perabotan rumah tangga hingga meja, kursi dan perlengkapan meubel seken lainnya. Pasar ini sangat ramai sebelum pandemi Covid-19 mewabah.

 

Kini kondisinya berbalik 160 derajat dimana sepih dan banyak lapak yang tutup. Pedagang tak bisa bertahan di sana sebab berbagai aturan untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 berdampak dengan usaha mereka. Larangan berkerumun tentu mengurangi minat pengunjung ke lokasi pasar. Belum lagi dengan kebijakan-kebijakan pembatasan akses masuk dari luar negeri yang membuat mereka kesulitan mendapatkan stok pakaian ataupun barang bekas dari Singapura dan Malaysia. Ada yang menyerah beralih ke profesi lain, ada juga yang bertahan namun harus beradaptasi dengan keadaan seperti yang dilakoni Lina saat ini.

 

Lina sadar bahwa dia tak bisa menunggu pembeli datang seperti sebelumnya. Dia harus jemput bola sehingga memanfaatkan media sosial untuk tetap menjalankan bisnisnya. Dengan smartphone yang dimiliki dia memotret dagangannya kemudian posting ke media sosial. Dia juga rutin menayangkan barang dagangannya melalui siaran live streaming. Alhasil usahanya ini tetap berjalan dengan baik. Meksipun tak senormal seperti saat belum ada Covid-19, Lina tetap bersyukur karena masih memiliki penghasilan. Secara tidak langsung dia juga membantu sesamanya yakni Hendrik, sang kurir yang kehilangan pekerjaaan akibat dampak dari wabah yang menggemparkan dunia ini.

 

“Covid-19 memang berdampak tapi kita harus bisa beradaptasi biar tak tergilas. Jujur saja awalnya saya pasrah, tapi setelah dipikir-pikir mau sampai kapan pasrah nya sementara kita tidak tahu kapan wabah ini berakhir. Saya akhirnya terjun ke jualan online dan hasilnya memang cukup bagus. Saya masih bisa bantu suami buat nambah-nambah penghasilan di rumah. Kurir juga terbantu karena ada ongkos kirimnya,” kata Lina.

 

Di lokasi pasar seken Aviari tempat Lina berjualan sebelumnya situasinya menang sudah sangat berbeda. Semenjak pandemi Covid-19 mewabah, pasar seken terbesar di kota Batam ini mati suri. Aktifitas jual beli sangat minim. Pasar kini berubah jadi tempat hunian bagi mereka yang bertahan di sana. Banyak lapak yang tutup karena pemiliknya telah beralih profesi. (*)

 

Reporter: EUSEBIUS SARA