Vaksinasi Penyelemat Ekonomi

Fista Novianti/Suara Merdeka

 

Vaksinasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi 
Vaksinasi

diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara Indonesia. Pasca vaksinasi diyakini berdampak positif pada trend ekonomi dan investasi yang sempat melambat karena pandemi. 
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Prof Dr Andreas Lako menuturkan, prospek ekonomi pasca vaksinasi diharapkan akan terus tumbuh. Vaksinasi diyakini membawa optimisme bagi perekonomian Indonesia. Diharapkan pandemi yang sempat membuat pertumbuhan perekonomian minus akan kembali tumbuh setelah adanya vaksinasi. Apalagi setelah disahkannya UU Cipta Kerja. UU Cipta Kerja diharapkan bisa memperbaiki perekonomian Indonesia, mendorong investasi, mempercepat transformasi ekonomi, mengatasi problem regulasi. 
"Pelaku pasar saham dalam hal ini investor sudah merespon baik UU Cipta Kerja," tuturnya saat Ngobrol Virtual tema Prospek Ekonomi Pasca Vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan Suara Merdeka, Kamis (21/1) melalui Zoom Meeting. 
Dikatakannya, data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal, realisasi investasi pada triwulan ketiga meningkat sebesar 8,9%. Pencapaian ini tidak semata-mata karena pemerintah menerapkan new normal melainkan juga karena adanya UU Cipta Kerja. Sentimen positif UU Cipta Kerja mendorong peningkatan realisasi investasi. Sementara untuk di Jawa Tengah, penanaman modal dalam negeri tahun lalu justru meningkat dibanding penanaman modal asing pada triwulan ketiga. "Sangat mungkin jika pada triwulan keempat akan mengalami peningkatan sampai 104%," ujarnya. 
Lalu, jika melihat kinerja investasi di Jateng pada triwulan ketiga meningkat sebesar 9,9%. Hal ini karena adanya dampak positif dari UU Cipta Kerja. Sementara, imbuh Andreas Lako, di Jawa Tengah masih ada isu-isu krusial. Data-data makro menyebutkan ada enam permasalahan. Antara lain, pertumbuhan ekonomi yang merosot, pengangguran terbuka terus naik. Pada Agustus lalu naik dari 4,2% menjadi 6,8%. Isu krusial lainnya, kemiskinan naik masih 12-13%, juga ketimpangan ekonomi, kesejahteraan rakyat menurun karena pendapatan perkapita yang defisit. 
Adapun isu-isu lainnya, di antaranya regulasi daerah yang masih tumpang tindih. "Belum adanya simetris antara Pemda dengan Pemerintah Kota atau Pemkab setempat. Pemerintah pusat maunya A diikuti Provinsi A dan responnya beda-beda saat diikuti Pemkab dan Pemkot," jelasnya. 
Andreas mengatakan, Covid-19 masih akan berlanjut. Maka kehadiran UU Cipta Kerja diharapkan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan investasi. Lalu bagaimana dengan penipuan? dalam ketidakpastian pasar maka akan munculnya sekelompok orang yang berusaha menawarkan skim investasi yang tidak masuk akal dengan bunga tinggi kepada investor. Hal ini yang perlu diwaspadai oleh masyarakat dengan maraknya penipuan investasi. Oleh sebab itu, diperlukan edukasi yang benar kepada masyarakat agar mereka tidak tertipu.
Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Prof Dr FX Sugiyanto mengatakan, vaksin bersifat publik yang dibiayai pemerintah sudah menjadi keharusan. Sehingga vaksinasi berdampak baik bagi perspektif ekonomi. Kalau tidak dilakukan, akan mengancam substansi fiskal. Dalam kondisi krisis ini, vaksin benar-benar harus dilakukan. 
Bagaimana dengan moneter dan keuangan? Ia memaparkan, secara makro Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas harga di tingkat stabil. Didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang melakukan pelonggaran seperti restrukturisasi kredit. Namun jangan sampai restrukturisasi kredit ini dimanfaatkan oleh bank yang tidak bekerja dengan baik. Ruang untuk melonggarkan kredit dimanfaatkan oleh perbankan yang tidak bekerja dengan serius. Restrukturisasi boleh dipergunakan untuk mereka yang terdampak krisis. OJK perlu lebih tegas dan lebih kreatif. 
"Industri keuangan jangan sampai memburuk pada tahun 2022. Oleh sebab itu diperlukan solusi agar kondisi ekonomi semakin membaik," ungkapnya. 

Antara lain, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan berdasarkan bukti. Lalu, reformasi birokrasi yang belum selesai. Juga, penyelesaian anggaran yang belum terserap. "Pandemi ini nemberikan banyak pelajaran dimana kita harus berubah. Berupaya untuk efisien. Baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Bukan apa yang kamu inginkan melainkan apa yang kamu butuhkan," terangnya. (H32, K14, arw-)