Wisata Dibuka, Libur Sekolah Ditiadakan

  • shortcodes_slider_1 Kondisi lalu lintas yang semrawut terjadi di kawasan simpang empat Titik Nol Kilometer Kota Jogja, kemarin (12/12). Setiap akhir pekan di kawasan Malioboro hinggaTitik Nol Kota Jogja dan sekitarnya selalu terjadi kemacetan karena penumpukan kendaraan wisatawan yang berlibur dan masyarakat yang beraktifitas. foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
 

Keramaian Hampir Menyamai sebelum Pandemi

 

Suasana di Kota Jogja di akhir pekan ini terasa seperti saat liburan sebelum pandemi Covid-19. Padahal belum masuk liburan Nataru.

Seperti di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Pantauan Radar Jogja kemarin (12/12) sore hingga petang, jalanan di sekitaran kawasan Malioboro didapati kendaraan.  Kebanyakan kendaraan itu berpelat luar DIJ. Meski masih didominasi kendaraan pribadi, jumlah bus pariwisata luar daerah yang memadati jalanan di Kota Jogja juga cukup banyak.

Bahkan sempat terjadi kemacetan cukup panjang di sekitaran titik nol kilometer Kota Jogjakarta. Kemacetan itu disebabkan banyaknya kendaraan yang memadai area tersebut. Juga kepatuhan para pengendara terhadap rambu lalu lintas yang sangat kurang. Ditambah lagi tidak adanya petugas yang berjaga di sekitaran tersebut kian menambah suasana semrawut.

Edo Setiawan salah satu wisatawan dari Jawa Barat mengaku sengaja datang ke Jogja saat akhir pekan. Sebab hanya di waktu tersebut ia bisa mendapatkan libur dari pekerjaannya. Ia pun sudah memperkirakan bakal terjadi penumpukan kendaraan di area sekitaran Malioboro. Juga padatnya pengunjung. "Ya memang kalau ke Malioboro biasanya seperti ini," ujarnya.

Peningkatan volume kendaraan itu diakui oleh Dinas Perhubunga Kota Jogja. Hal itu juga diperprah dengan kecilnya jalan-jalan yang ada di kota Jogja dan adanya sejumlah pekerjaan di beberapa ruas jalan. "Memang keadaannya begitu, jalan di Kota Jogja tidak terlalu besar buat menampung volume kendaraan dalam jumlah banyak," ujar Kepala Dinas Perhubungan Jogja Agus Arif Nugroho.

Agus menyebut, telah memberlakukan skema arus di kawasan tersebut. Ditambah lagi dengan aturan skema satu pintu masuk bagi bus wisata, sehingga dia mengklaim bahwa tidak ada lagi bus yang melewati tengah kota kecuali untuk urusan parkir. "Ada tiga lokasi itu untuk parkir bus. Ngabean, Senopati dan Abu Bakar Ali, jadi semuanya coba kita optimalkan supaya manajemen atau pengaturannya bisa cukup dan tidak terlalu menganggu arus lainnya," ungkapnya. 

Agus mengklaim, jumlah kendaraan wisata yang masuk ke Kota Jogja juga menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya.  Pada Desember ini kebanyakan wisatawan berpelesir dengan menggunakan kendaraan pribadi untuk masuk ke wilayah setempat. "Kami harap masyarakat juga memaklumi bahwa lalu lintas yang padat itu ya memang karena kendaraannya lebih banyak pada saat akhir pekan," tambahnya.