Waspada Omicron, Kucinya Vaksinasi dan Prokes

Cegah Omicron dengan Vaksin dan Prokes, gambar Ilustrasi./dok

 

VARIAN Virus Covid-19 Omicron mulai ditemukan kasus baru di Indonesia, hal itu berdasar keterangan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang mengumumkan bahwa telah terdeteksi satu kasus konfirmasi COVID-19 varian Omicron di wilayah Indonesia, beberapa waktu lalu. 
Menkes menyebutkan, kasus pertama tersebut terdeteksi di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. 
Untuk itu masyarakat perlu mewaspadai penularan virus baru ini, terlebih saat ini mendekati libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. 
Pemerintah pun dalam hal tak tinggal diam, hingga Presiden Joko Widodo langsung mengajak masyarakat untuk bersama-sama berupaya mencegah terjadinya penularan COVID-19 varian Omicron di Tanah Air. Seluruh elemen masyarakat diminta untuk menjaga situasi Indonesia tetap baik dan mempertahankan tingkat penularan di bawah angka satu.  
Dalam keterangannya, Presiden meminta masyarakat untuk tidak panik karena sejauh ini kasus varian Omicron belum menunjukkan karakter yang dapat membahayakan nyawa pasien, terutama bagi pasien yang telah mendapatkan suntikan vaksin. Untuk itu, Kepala Negara meminta agar masyarakat segera melakukan vaksinasi COVID-19 di sejumlah fasilitas kesehatan. 
Presiden juga mengingatkan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Di saat yang sama, Presiden meminta pemerintah daerah lebih menggencarkan penelusuran dan pengetesan kontak erat guna mendeteksi terjadinya kasus konfirmasi secara lebih dini. 
Selain itu, Kepala Negara juga meminta agar masyarakat dan pejabat negara membatasi mobilitas dengan tidak melakukan perjalanan utamanya ke luar negeri untuk sementara waktu. 

Terdeteksi di 77 negara
Perlu diketahui bahwa varian baru ini dinilai bermutasi dengan sangat cepat dan telah dipastikan terdeteksi di 77 negara. Namun, Direktur Jendral WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan varian Omicron kemungkin telah ada di banyak negara lainnya namun belum terdeteksi.
Dr Tedros mengatakan ia prihatin karena belum cukup tindakan yang dilakukan untuk menangani varian ini. “Kita telah belajar bahwa kita meremehkan virus ini. Walaupun Omicron tak menyebabkan gejala parah, banyaknya kasus akan dapat sekali lagi menyebabkan lumpuhnya sistem kesehatan yang tak siap,” katanya.
Ketika para ilmuwan di Afrika Selatan menemukan varian Covid-19 yang belakangan dinamakan Omicron, mereka mencatat beberapa hal menonjol. Catatan pertama dan yang paling penting adalah banyaknya mutasi yang ditunjukkan oleh versi virus ini. Jaringan pakar internasional belum mendeteksi genetika kombinasi mutasi ini.
“Omicron muncul dengan sesuatu yang sama sekali berbeda,” kata Richard Lessells, pakar penyakit menular di Universitas KwaZulu-Natal. Richard Lessells meruoakan bagian dari tim yang pertama kali mendeteksi Omicron akhir November lalu.
Lessells dan rekan-rekannya merasa bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi. Mereka meyakini Omicron mengagetkan banyak orang karena berkembang dalam tubuh seseorang yang sistem kekebalannya yang lemah. Seperti yang di kawasan sub-Sahara Afrika itu diduga orang yang terinveksi (Omicron)  tersebut mengidap HIV dan tidak menjalani pengobatan.
Setelah berkembang dalam tubuh orang itu, Omicron kemudian menyebar ke lebih dari 40 negara. Meski setidaknya terdapat dua penjelasan lain yang kemunculan varian ini, hipotesis tentang mutasi dalam tubuh satu orang tadi didukung dalam komunitas ilmiah.

Dari Mana Asal Omicron
Para ilmuan belum tahu pasti di mana Omicron berevolusi dan dalam keadaan seperti apa. Yang sudah diketahui publik hanyalah fakta bahwa varian baru itu pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari Afrika Selatan pada 24 November lalu.
Mengetahui lokasi dan waktu suatu varian muncul penting bagi ilmuwan dan pakar kesehatan masyarakat. Alasannya, dua hal itu memuat informasi tentang cara yang mungkin diupayakan untuk menahan penularannya.
Cara-cara mengatasi Omicron bisa berupa karantina wilayah atau pembatasan perjalanan, meskipun dua hal ini dikritik dan dianggap tidak efektif.
Semakin cepat varian baru terdeteksi, maka semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk mengetahui segala hal tentangnya.
Apakah varian baru ini lebih menular? Apakah varian ini mereplikasi lebih cepat di dalam orang yang terinfeksi? Apakah menyebabkan penyakit yang lebih serius? Bisakah varian ini menghindari pertahanan kekebalan tubuh?
Sejumlah pertanyaan tadi bisa terjawab jika deteksi terhadap varian baru sebuah virus bisa secara cepat dilakukan. Pertanyaan soal “bagaimana” juga sama pentingnya untuk segera dijawab.
Jika Omicron benar-benar berevolusi dalam tubuh seorang pasien yang sistem kekebalannya yang terganggu, maka pemantauan terhadap orang-orang seperti itu akan menjadi sangat krusial dalam memerangi Covid-19.
“Kami sekarang memiliki lebih banyak data yang menunjukkan hubungan antara varian dan orang dengan gangguan kekebalan dengan infeksi Covid kronis,” kata Larry Corey, virolog di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, Seattle, Amerika Serikat.
“Namun kelompok orang ini belum muncul sebagai komponen penting dari strategi pencegahan Covid,” tuturnya.
Bagaimana Omicron bisa berkembang dalam tubuh satu manusia?
Para ilmuwan memiliki serangkaian petunjuk untuk membuat “tebakan ilmiah” tentang bagaimana Omicron muncul.
Lessells mencatat, Omicron secara substansial berbeda dengan varian virus corona yang sebelumnya muncul. “Analisis genetik telah menunjukkan bahwa Omicron berada di cabang ‘pohon keluarga’ yang sama sekali berbeda,” ujarnya.
Lebih penting lagi, garis genetika Omicron tidak memiliki rekam jejak mutasi perantara yang lebih baru. Versi terdekat, kata Lessells, berasal dari pertengahan tahun 2020.
Kesenjangan itu menunjukkan Omicron yang sangat bermutasi berevolusi “di bawah radar”, kata Francois Balloux, Profesor Sistem Biologi Komputasi di University College London.
“Varian ini telah melompat entah dari mana,” ujarBalloux. Dan mutasi tersebut sangat, sangat berbeda.
Analisis terhadap Omicron memunculkan temuan bahwa varian baru ini memiliki 50 mutasi. Lebih dari 30 mutasi di antaranya terjadi pada protein spike--bagian dari virus yang menentukan bagaimana ia berinteraksi dengan pertahanan tubuh.
Sebagai perbandingan, varian Delta hanya memiliki tujuh mutasi. Jadi bagaimana Omicron sangat berbeda dari varian virus corona sebelumnya?
Jika Sars-Cov-2 hilang dari tubuh kebanyakan pasien dalam waktu singkat, penelitian di seluruh dunia menunjukkan, virus itu dapat bertahan lebih lama pada orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah.
Individu yang masuk golongan itu, antara lain pasien dengan penyakit seperti HIV, penderita kanker, dan penerima transplantasi organ.
Dengan resistensi yang lebih sedikit dari inangnya, virus corona berpeluang melakukan sejumlah mutasi. Namun dalam tubuh dengan kekebalan yang kuat, mutasi biasanya membutuhkan sirkulasi yang lebih luas dalam suatu populasi.
Kunci Mencegah Omicron tak Lain Hanya Vaksinasi
Terkait dari para pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam mencegah atau meminimalisir penularan varian Omicron hanyalah vaksinasi. Karena Vaksinasi itu membentuk kekebalan tubuh dua kali lebih kuat.
Vaksinasi juga dapat mencegah virus baik baru maupun virus lama, karena semua virus itu hanya satu keluarga yaitu Corona. Untuk masyarakat diminta tidak panik dalam menyikapi varian Omicron ini, tetap jaga protokol kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, menjakankan 5M, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumuanan serta mengurangi mobilitas. 
(Penulis: Adetya Teguh J 
Sumber : bbc.com Indonesia

Catatan: Inisial Guh adalah ADETYA TEGUH J merupakan peserta Ubahlaku dar Media Cetak Laras Post